Makin Langka Makin Bangga

Koleksi Gitar
Makin Langka Makin Bangga

KALAU membaca majalah musik luar negeri, terutama yang spesifik membahas soal instrumen gitar, ada satu pertanyaan yang sering muncul dari pembacanya. Apa yang bikin gitar bisa menjadi barang koleksi? Penjelasannya sih ada bermacam-macam. Lantas, apa pula serunya jadi kolektor gitar?

Sebagai permulaan, kayaknya perlu dipahami dulu apa definisi dari barang yang patut buat dikoleksi (collector’s item). Barang tersebut merupakan sesuatu yang diincar banget oleh orang-orang yang menyebut dirinya kolektor. Kalau dalam hal ini barang tersebut berupa instrumen gitar, maka yang mengincarnya termasuk juga para musisi.

Biasanya buat sejumlah instrumen musik, termasuk gitar, bisa jadi incaran diihat dari faktor-faktor kualitas, keindahan, dan kegunaan. Artinya terbuat dari material yang berkualitas tinggi dan pengerjaannya sempurna. Kegunaan tentunya bakal makin kelihatan setelah dua faktor tadi terpenuhi.

Nah, sebagai sebuah barang yang patut dikoleksi, sebuah gitar biasanya telah terbukti mampu melampaui masa yang cukup panjang dan tetep berada dalam kualitas terbaiknya. Jarang ada yang mau mengoleksi kalau gitar tersebut sudah jadi rongsokan atau rusak di sana-sini. Mungkin bakal lain ceritanya kalau gitar tersebut punya nilai sejarah yang tinggi.

Diincar karena kualitas

Entah sejak kapan, banyak banget kolektor gitar, baik itu awam maupun para musisi, yang mengincar instrumen ini. Terutama lantaran instrumen gitar itu memegang peranan sangat penting dalam perkembangan musik dunia. Bisa dibilang pula keberadaan gitar adalah satu-satunya instrumen yang bisa bikin perkembangan musik sampai seperti sekarang ini.

Pasalnya instrumen gitar termasuk paling menarik buat dimainkan dengan segala macam model improvisasi. Mungkin kalau mendengarkan musik dari era-era sebelum tahun 60-an, permainan sejumlah instrumennya terdengar biasa dan simpel banget. Tapi begitu memasuki tahun 60-an hingga sekarang, bakal terasa perbedaan yang sangat besar.

Para musisi semakin berhasil menciptakan teknik dan skill bermain instrumen yang hebat. Apa-apa yang tidak terpikirkan sebelumnya, ternyata bisa dilakuin secara lebih kreatif. Mulai itu dari sekadar sound yang dihasilkan, sampai yang paling penting kehebatan improvisasi dalam bermain instrumen. Belakangan faktor ini memunculkan sejumlah genre baru dalam musik.

Salah satu instrumen yang teknik dan skill memainkannya makin berkembang dahsyat adalah gitar tadi. Unsur sound dan melodi yang bisa dihasilkan, kalau dibanding dengan berpuluh-puluh tahun yang lalu, sangat memukau. Contohnya sound distorsi (sember) yang tadinya dianggap enggak termasuk kaidah estetik dalam bermusik, kini menjadi kekuatan lewat instrumen gitar. Lantas permainan nada-nada yang unik dengan cara penjelajahan fret-fret gitar hingga batas yang masih belum bisa ditentukan.

Perkembangan ini ternyata enggak disadari oleh para pionir pembuat instrumen gitar. Waktu Leo Fender memperkenalkan gitar Fender Stratocaster pertama kali, gitar ini tadinya diperuntukkan buat musisi-musisi country. Begitu pula saat Les Paul membuat gitar bermerek Gibson, tadinya dianggap hanya cocok buat musisi-musisi jazz dan pop. Enggak tahunya, kedua merek gitar ini jadi legenda lantaran pengaruhnya yang sangat besar buat perkembangan musik populer. Terutama banyak dipakai oleh para gitaris legendaris kayak Eric Clapton, Jimi Hendrix, atau Jimmy Page.

Tidak heran kalau lantas gitar-gitar dari merek tadi banyak diincar para kolektor sekarang ini. Pasalnya sudah terbukti kualitas yang dihasilkan memang bagus. Ini yang jadi alasan para kolektor gitar dan musisi buat mengumpulkan dan menggunakan merek yang sama.

“Buat aku gitar merek Gibson emang paling cocok. Gitar lain sebenarnya enak juga, tapi lama-lama berasa enggak enak dipakenya. Makanya koleksi aku sekarang kebanyakan merek Gibson,” kata Ivan, gitaris band Boomerang yang jumlah koleksi gitar Gibson-nya saat ini sudah mencapai puluhan.

Kayak beli lukisan

Bagi para gitaris memang sudah jadi keharusan buat memiliki instrumen ini. Tapi nyatanya, mereka ini enggak cukup puas hanya dengan memiliki satu gitar saja. Kalau perlu sampai berpuluh-puluh banyaknya. Selain buat kebutuhan penampilan di atas panggung, bisa juga buat memuaskan hobinya mengoleksi gitar.

“Aku sekarang ini punya koleksi gitar jumlahnya kira-kira 40 lebih. Aku kalau ngumpulin gitar tuh udah kayak anak kecil aja. Kepengin punya banyak barang-barang yang memang diincar. Makanya aku tuh beli gitar selain dipakai buat main, juga udah kayak beli lukisan aja,” cerita Eross, gitaris Sheila On 7.

Lain lagi dengan komentar Budjana, gitaris Gigi, soal hobinya mengumpulkan gitar. Koleksinya enggak terdiri dari satu jenis merek saja, tapi terdiri dari berbagai merek. Semua gitar yang berhasil dikumpulkannya itu ternyata memang penting banget buat profesinya sebagai musisi.

“Gue punya banyak gitar karena masing-masing punya sound yang khas. Masing-masing gitar beda tipe. Ada yang gue mainin khusus buat jazz, rock, atau musik lainnya. Lagi pula kalau ngerjain album, gue suka main banyak aransemen. Makanya sekitar 20-an gitar pernah gue keluarin buat ngerjain satu album,” kata Budjana.

Jelas kenapa para gitaris top perlu mempunyai koleksi banyak gitar. Tapi apakah mereka ini bisa disebut sebagai kolektor gitar?

“Aku sudah sering ketemuan sama beberapa orang yang hobi mengoleksi gitar. Dari situ aku berani bilang kalau aku ini emang juga seorang kolektor. Soalnya aku punya beberapa gitar yang sekarang ini bisa dibilang langka,” tegas Eross.

Nah, dari sini jelas kelihatan kalau faktor waktu memang punya peranan penting bagi sebuah gitar untuk layak dijadikan barang koleksi. Gitar yang langka menurut Eross itu adalah gitar yang produksinya udah lama banget dan sekarang ini enggak diproduksi lagi. Gitar-gitar model inilah yang banyak jadi incaran para kolektor.

Salah satu kebanggaan Eross dari koleksinya adalah gitar bermerek Gibson tipe ES-175. Gitar ini selain tahun produksinya yang tua banget, tahun 1961, juga merupakan instrumen andalan gitaris legendaris dari grup musik Yes, Steve Howe. Kalau pernah melihat bagaimana gitaris ini memainkan gitarnya tadi dalam penampilan konser, bisa terlihat betapa uniknya permainan dan improvisasi yang bisa dikembangkan dari gitarnya itu. Bukti kalau produk tua ini berkualitas tinggi dan layak buat jadi collector’s item.

Sama halnya kayak Andra, gitaris Dewa. Gitaris yang satu ini juga mengoleksi puluhan merek gitar yang merupakan andalan gitaris-gitaris top.

“Gitar favoritku Fender Stratocaster. Waktu masih ABG sebenernya aku pengin punya gitar yang bentuknya modern. Tapi setelah ngelihat banyak gitaris top pake merek itu, akhirnya aku beli juga dan langsung berasa cocok,” kata gitaris kalem ini.

Makanya, di antara sederet koleksinya dari berbagai merek gitar, merek Fender tetap yang terbaik buatnya. “Biar aku beli-beli gitar merek baru, balik-baliknya ya ke Fender juga,” tambahnya.

Bangga berat

Bisa memiliki gitar yang memang jadi incaran bagi para kolektor adalah menjadi satu kebanggaan. Apalagi kalau gitar tersebut termasuk langka dan kondisinya masih baik. Karena gitar kayak begini enggak cuma diincar oleh para kolektor dalam negeri aja, tapi juga ratusan kolektor-kolektor lainnya di luar negeri.

“Aku pernah bawa gitarku yang langka ke Malaysia dan Singapura. Waktu ada kolektor gitar di sana yang ngeliat gitarku, dia kaget banget ngeliatnya. Enggak cuma karena barangnya emang susah dicari lagi, tapi juga kondisinya masih bagus banget dan masih bisa aku pake buat manggung. Tapi paling bangga waktu aku berhasil beli gitar Gibson ES-175 tadi. Waktu aku cek ke Gibson di Amrik, ternyata tahunnya lebih tua dari yang punya Steve Howe. Udah gitu karena kondisinya masih orisinil semua, termasuk kertas identifikasinya yang nempel di bodi gitar, harganya mahal banget,” kata Eross.

Karena perasaan bangga yang bisa didapat dengan mengoleksi gitar, susah buat dihitung lagi berapa jumlah kolektor yang ada saat ini, baik di Indonesia maupun seluruh dunia. Enggak heran kalau para kolektor sekarang ini mengaku kesulitan mencari gitar-gitar langka buat jadi koleksinya. Tapi biasanya para kolektor ini saling berhubungan satu sama lain, memberi informasi soal gitar-gitar yang layak jadi koleksi. Beruntung kalau ada yang mau melepas koleksinya.

Buat yang baru mau memulai hobi mengoleksi gitar, enggak usah khawatir. Asal niat pengin memiliki gitar yang langka, pasti ada jalannya. Seperti Eross yang mengaku selalu beruntung ditawari gitar-gitar langka di saat lagi kepengin memilikinya.

DONNY TRIANTO Tim Muda

Pengetahuan dasar memilih gitar akustik

acoustic electric guitarsBagi pemula memilih gitar adalah hal yang belum pasti karena mau main apa sih kepinginnya. Karena masa-masa awal bermusik biasanya kuping menyenangi semua denting gitar. Semua terdengar menarik dan ingin memainkannya. Namun pada dasarnya ada 2 kriteria yang patut dipahami sebelum salah pilih. Dan tentu bagi pemula gitar akustik dululah.

Gitar Nylon String
Gitar dengan snar nylon adalah termasuk katagori gitar klasik. Ciri-ciri gitar klasik adalah mempunyai neck atau fretboard yang lebar. Gitar ini biasanya dipakai memang untuk memainkan lagu-lagu klasik atau flamingo ya mexicoan atau spanyolanlah. Kalau pernah dengar lagu Romance de amor ini lagu klasik.

Kalau ingin memainkan lagu klasik pilihlah gitar dengan snar nylon. Banyak musisi besar datang dari memainkan klasik pada awalnya. Sehingga muncul genre yang kita kenal dengan klasik rock. Sebut saja nama Yngwi atau Blues Saraceno yang memainkan lagu klasik ‘Bouree’ dengan sangat manis dengan gitar elektrik. Musisi musik klasik yang sangat tenar dan mengguncang dunia klasik pada jamannya sampai sekarang adalah: John William, Al Di Meola, John Mc Laughlin (sekarang banyak di Jazz Blues).

Merek gitar klasik yang paling gampang dicari dan umum di Indonesia adalah Yamaha dari type G. Di Bandung dulu pernah beredar merek Genta keren juga. Merek lain di kota-kota besar beredar juga Fender sampai Gibson.

Gitar Steel String
Bagi pemula yang berencana belajar melodi, musik rock, blues atau tidak belajar klasik sebaiknya memilih gitar dengan snar steel ini. Ciri-ciri gitar ini mempunyai neck atau fretboard yang ramping.

Karena gitar ini bertali kawat baja maka kecenderungan stang akan menjadi bengkok. Ini masalah utama pada gitar steel string apalagi kalau ia murahan! Maka sebenarnya waktu milih gitar steel string kita harus mengerti stelan standar gitar. Ajaklah teman yang mengerti nyetem standar ini. Ada alat yang namanya ‘Tuner’ yaitu standar nada pada umumnya yang dipakai nyetem gitar biar nadanya standar. Kalau gitar tidak bisa distel standar, pemula yang kebanyakan belajar nyari lagu dari cd atau kaset nantinya susah mengikuti nada-nada tersebut. Kang Iwan Fals kalau manggung memakai gitar acoustic electric. Acoustic electric bagus kalau rencana mau record acoustic gitar dengan cara DI (direct input).

Saat memilih gitar juga perhatikan fret jangan sampai ada satu nada yang mati karena fret ketinggian di salah satu tempat. Bisa diperbaiki sih tapi kan repot. Cobalah ambil chord dekat dengan bodi. Saya biasanya juga melakukan cek nada satu persatu di atas fret. Lihat stang apa juga lurus dengan cara melihat dari ujung bodi ke headstok atau sebaliknya. Ya kayak membidik dengan senapanlah. Nggak usah malu karena pemula dari pada salah.

Acoustic Electric
Kalau emang milih gitar dengan electriknya sekalian, jangan lupa nyolokin ke amp cabinet yang biasanya juga ada di toko gitar.Tentu kalau ada amp yang acoustic. Ini penting sekali karena terkadang salah satu snar mempunyai sound out yang tipis. Atau frekuensinya tidak seimbang. Yang benar itu suara harus rata. Atau nanti waktu melodi satu snar nggak kedengaran. Terkadang dagangnya bilang kalau tahu anda pemula: ‘Biasa seperti itu kalau gitar akustik elektrik’. Itu sama sekali tidak benar!

Merek gitar string yang banyak beredar di Indonesia adalah Takamine dan sering juga saya lihat banyak musisi Indonesia yang pakai. Harga cukup murah. Namun kalau mau yang bermerek lain ada: Ovation, Martin, Taylor, Fender, dsb. Di hompage itu gitar akustik aku. Ovation black yang udah didandani perak. Ovation back bodinya enak nggak tebal.

Coba liat-liat di www.sweetwater.com

10 hal penting tentang gitar


14 07 2008

Mungkin sekali pada saat anda pertama kali mulai memainkan gitar elektrik, timbul pertanyaan-pertanyaan yang seringkali membuat anda bingung. Bagi pemain profesional mungkin akan sangat mudah untuk menjawabnya, namun bagi para pemula bisa jadi akan sangat membuat pusing kepala. Nah… ada baiknya anda simak 10 hal berikut ini.

  1. Mengapa Fret gitar saya buzzing ?

Bila anda sedang memainkan gitar anda dan tiba-tiba menemui suara “buzzing” ( brtz…brtz…) pada fret tertentu, itulah yang disebut dengan istilah fret buzzing. Hal ini biasanya disebabkan oleh fret fret gitar yang sudah “terkikis habis “ sehingga tidak lagi rata ketinggiannya satu dengan yang lainnya. Cara mengatasinya yaitu : dengan re-fretting ( mengganti seluruh fret pada gitar anda ), atau melakukan proses “ leveling” ( meratakan ketinggian fret di seluruh neck gitar dengan sand paper /sejenis amplas. Namun demikian hal ini sebaiknya dilakukan oleh seorang profesional.

  1. Mengapa neck gitar saya bengkok ?

Jika hal ini terjadi pada gitar anda, jangan terlalu kuatir, karena cukup sering dijumpai gitar dengan neck yang tidak lurus ( bengkok ). Bahkan bila anda lihat gitar-gitar baru yang dipajang di toko sekalipun, dapat terjadi kasus neck bengkok (bowing). Penyebabnya bisa jadi adalah tension /tegangan yang berlebihan dari senar, sehingga neck menjadi bengkok ke arah atas. Tegangan berlebihan ini bisa disebabkan karena senar yang dipakai berukuran sangat tebal, misalnya di atas 0.12 . Cara mengatasinya adalah dengan mengendurkan senar-senar dan memutar “truss rod “ ( truss rod adalah sejenis besi yang terdapat di dalam neck gitar ) searah jarum jam sebanyak kurang lebih ½ hingga satu putaran penuh. Namun demikian proses ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, karena dapat mengakibatkan truss rod patah. Bila truss rod terlalu sulit diputar, sebaiknya jangan dipaksa. Lebih baik hentikan proses tersebut dan serahkan kepada ahlinya.

  1. Mengapa bunyi gitar saya noise ?

Bunyi noise sesungguhnya ada bermacam-macam, namun yang sering dijumpai adalah noise yang disebabkan oleh wiring / perkabelan yang tidak sempurna. Jika memang demikian, sebaiknya dilakukan pengecekan pada bagian perkabelan. Kebanyakan gitar memiliki perkabelan yang tidak terlalu rumit, sehingga memungkinkan anda untuk melakukan pengecekan sendiri. Pertama-tama, lihatlah kabel yang tersambung ke ground. Kabel ground ini adalah kabel yang tersambung ke body potensiometer. Periksalah apakah solderannya tersambung dengan baik, ataukah kendur, atau hanya sebagian kecil yang menempel. Hal-hal demikian dapat menyebabkan kabel ground tidak menempel dengan sempurna sehingga akan timbul suara “dengung / noise “. Kemungkinan lainnya adalah : lubang bukaan tempat kabel pada belakang body gitar anda tidak tercover dengan sempurna oleh material penghantar. Biasanya material yang dipakai untuk mengcover adalah cat hitam yang terbuat dari karbon, dan alumunium foil pada tutup belakang. Jika memang terjadi demikian coverlah bagian lubang tersebut secara sempurna.

  1. Mengapa pada nada tinggi gitar saya sering tidak “in tune”

Jika aanda mengalami hal demikian, kemungkinannya adalah intonation problem. Pada problem intonasi ini, yang harus dilakukan adalah penyesuaian letak saddle pada bridge. Pada gitar dengan intonasi yang sudah diset dengan benar, posisi saddle antar senar satu hingga senar 6 justru tidaklah rata. Untuk melakukan seting intonasi ini, anda membutuhkan electrik tuner. Sebagai contoh : setemlah senar 1 ( nada E ) dengan tuner. Setelah itu periksalah pada posisi open string dan posisi fret 12 dan 24, haruslah menunjukan nada yang persis sama pada tuner anda. Jika pada fret 12 ternyata nada E lebih tinggi dibandingkan dengan open string, maka geserlah saddle ke arah depan. Lalu lakukan pengecekan lagi dengan tuner. Namun jika terjadi nada E lebih rendah pada fret 12 dibandingkan dengan open string, maka saddle harus digeser ke arah belakang. Lakukan proses yang sama untuk senar yang lainnya.

  1. Mengapa bila satu senar putus sisa senar yang lain menjadi tidak tune ?

Mungkin hal ini pernah terjadi pada gitar anda, yaitu pada waktu satu senar putus, maka ke 5 senar sisanya menjadi tidak tune atau fals ( sumbang ). Jika ini terjadi, maka kemungkinan bridge gitar anda dalam keadaan “floating”, atau tidak berada pada “zero position”. Yang dimaksud dengan floating disini adalah : bagian belakang plat bridge tidak menempel pada body gitar. Namun jika pada gitar anda menggunakan bridge Floyd Rose dengan sistem “up and down”, maka senar putus di tengah performance bisa jadi sebuah bencana, karena bisa dipastikan seluruh senar sisanya akan out of tune.

Kondisi seperti ini bisa di atasi dengan mengencangkan per / pegas pada body belakang gitar, sehingga seluruh plat bridge menempel pada body gitar.

  1. Mengapa tune ( seteman ) gitar saya selalu berubah bila tremolo bar dimainkan ?

Kasus seperti ini cukup sering terjadi pada gitar dengan double locking system /Floyd Rose system.

Bila tremolo bar ( handle vibrato ) dimainkan cukup sering, dapat mengakibatkan tuning gitar ( seteman) berubah sedikit, sehingga bunyi gitar menjadi sumbang. Hal ini mungkin dikarenakan penguncian yang tidak sempurna pada bagian “nut” gitar anda. ( jika terdapat locking nut ). Jika musik yang anda mainkan menuntut anda untuk menggunakan teknik “whammy bar” ( dive bombing / menekan vibrato bar cukup dalam dan dilakukan secara berulang-ulang ) cukup sering, maka bisa terjadi kuncian pada nut gitar menjadi kendur. Untuk pencegahannya, lakukanlah pengecekan tune setiap selesai beberapa lagu, dan lakukan penguncian nut dengan cukup keras.

  1. Mengapa senar gitar saya berkarat ?

Karat atau korosi pada senar gitar adalah suatu hal yang sangat sering terjadi, bahkan bisa dikatakan pasti akan terjadi. Senar gitar yang beredar di pasaran pada umumnya terbuat dari bahan logam nickel atau steel. Kedua bahan logam ini mempunyai tingkat korosi yang berbeda, namun demikian telapak tangan yang berkeringat akan menyebabkan proses korosi / karat cepat atau lambat akan terjadi. Seperti kita tahu bahwa keringat manusia bersifat asam, sehingga hal ini yang menyebabkan senar gitar berkarat / korosi. Pencegahannya ? Sesungguhnya tidak ada cara untuk mencegah proses korosi ini, hanya dapat dilakukan upaya untuk memperlambat proses karat tersebut. Caranya yaitu dengan melakukan perawatan senar dengan benar, setiap kali gitar selesai dimainkan. Misalnya dengan mem-polish senar gitar anda dengan cairan “gitar polish” atau “fast fret”, atau produk serupa lainnya yang banyak beredar di pasaran. Cara ini sebetulnya sangat mudah dilakukan, hanya banyak pemain gitar yang enggan untuk melakukannya karena menganggap hal ini bukanlah suatu yang penting.

Mengapa suara gitar saya semakin mengecil ?

Suara gitar yang semakin mengecil bisa jadi dikarenakan output dari pickup yang melemah. Hal lain yang mungkin jadi penyebab adalah batery dari pickup sudah lemah dan perlu diganti. Yang terakhir ini tentunya apabila circuit dalam gitar anda bersifat aktif atau anda menggunakan pickup aktif ( menggunakan batery ). Cobalah ganti dengan batery yang masih baru ( jenis alkaline sangat disarankan karena mempunyai masa pakai yang lebih lama ). Komponen pembentuk pickup yang utama adalah magnet, dan ternyata kekuatan magnet tersebut juga tidak selamanya tetap. Berarti bisa jadi ada penurunan power karena kondisi magnet. Namun demikian tidak tertutup adanya kemungkinan lainnya yang dikarenakan perlakuan terhadap pickup yang salah ( misalnya : mengekspose dibawah cahaya / panas matahari terlalu lama ).

  1. Mengapa terdapat bunyi noise pada volume dan tone ?

Noise ( bunyi yang tidak dikehendaki ) adalah salah satu problem ynag cukup sering muncul pada gitar elektrik. Bunyi noise pada volume / tone pada saat diputar,

( krssssk....) biasanya disebabkan oleh potensiometer yang kotor / rusak. Bila hal ini terjadi, disarankan untuk membersihkan potensiometer tersebut. Caranya adalah dengan menggunakan cairan contact cleaner. Prosesnya adalah sbb : angkat penutup potensio tersebut, kemudian sambil memutar-mutar potensio tersebut, semprotlah cairan cleaner pada bagian pangkalnya. Lakukan ini berulang-ulang pada volume dan tone. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah : pada bagian dalam potensiometer terdapat bahan carbon, dan penyemprotan dengan cairan contact cleaner berulang-ulang dapat mengikis carbon tersebut, jadi disarankan bila terjadi noise pada volume dan tone, segeralah menggantinya dengan potensiometer yang baru. Penggantian ini merupakan hal yang sangat wajar dan dapat dilakukan berkala, mengingat harga potensiometer juga relatif murah.

  1. Mengapa sound gitar saya sering terputus-putus ?

Sound gitar yang terputus-putus atau bunyi yang mati-mati, juga cukup sering dihadapi. Ada beberapa penyebab, antara lain : terdapat masalah pada kabel jack anda, atau terdapat masalah pada female jack / rumah jack yang tertanam pada body gitar. Bila masalahnya pada jack anda, sangat mudah hanya tinggal mengganti kabel jack. Namun bila yang menjadi penyebab adalah rumah jack pada body gitar, harus dilakukan pengecekan.

Bukalah sekrup penutup dan lihatlah bagian dalam rumah jack. Biasanya kaki-kaki pada rumah jack sudah kendur dan tidak mengapit dengan sempurna apabila jack dimasukkan ke dalamnya. Disarankan langsung mengganti female jack / rumah jack tersebut. Namun bila waktunya tidak memungkinkan untuk langsung mengganti, maka lakukan hal berikut : bengkokkanlah kaki-kaki tersebut ke arah dalam. Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai menyebabkan kaki-kaki tersebut patah. Setelah itu periksalah dengan memasangkan jack ke dalamnya. Apakah jack tersebut sudah terjepit dengan sempurna.

Ok guys…diharapkan bila masalah-masalah kecil seperti di atas muncul, anda tidak menjadi panik. Lakukan pembetulan sendiri sesuai petunjuk, dan ingat apabila sesudahnya masih terdapat problem, sebaiknya berkonsultasilah dengan ahlinya. Good luck !!

Karibnya Resital Gitar


“Gitar adalah instrumen yang paling mudah dimainkan secara jelek”

- Arthur Sahelangi -

UNGKAPAN di atas tidaklah keliru. Diucapkan oleh Arthur Sahelangi, seorang pengajar gitar klasik Indonesia yang sudah senior. Pasalnya, masyarakat sering kali menganggap gitar adalah alat musik yang mudah dimainkan. Gitar selalu dibawah bayang-bayang superior piano atau biola. Memang, gitar amat mudah dimainkan, tapi secara jelek. Dan sulit untuk bermain baik, apalagi mempesona.

Bukan apa-apa, instrumen ini pun baru berkembang di abad 18, jauh sebelum piano dan biola sudah berkembang lebih dulu. Dalam sejarah musik, posisi gitar di panggung pertunjukkan sebagai solois baru terjadi di abad 19, ketika seorang Andres Segovia membawa gitar menjadi primadona baru. Jadi, gitar memang belum memiliki standarisasi seperti pada piano, baik secara instrumentasi, teknik, maupun repertoar. Berbeda dengan piano yang pada segi instrumentasi, misalnya, memiliki standar pada merek Steinway. Atau di segi teknik, berbagai macam versi teknik piano dibukukan dalam karya Czerny atau pun Burgmuller,

Gitar pun memiliki keterbatasan pada rentang nada, produksi suara yang tidak terlalu resonantif, juga stabilitas nada. Namun semua keterbatasan itu kiranya tak dapat mentolerir gitar untuk bermain buruk, atau tak semusikal piano. Justru karena kekurangannya, gitar harus mencari bentuk-bentuk pencapaian bermusik yang khas. Yang hanya dimiliki oleh gitar saja, tidak di instrumen lain.

***

Di Erasmus Huis pada tanggal 7 Juli 2008, seorang gitaris dari Bali, Lianto Tjahjoputro mencoba menekuni musik lewat instrumen sintal tersebut. Sejak pertama menginjakkan kaki di panggung, kesan hangat dan karib darinya menyergap seisi ruangan. Dengan ramahnya Lianto menyapa penonton yang duduk rapih di hadapannya. Keramahan dan kehangatannya ini, membuat penonton seakan berada dalam sebuah resital pribadi di sebuah ruang keluarga yang tidak besar. Sungguh intim dan bersahabat.

Lianto mempunyai kepercayaan diri yang amat tinggi di atas panggung. Sekali pun Ia tidak termakan omongan akan kejamnya suasana di atas panggung. Sebaliknya, Ia malah mencairkan suasana tegang yang ada pada diri penonton. Sehingga berderailah tawa yang meliuk-liuk sepanjang resital malam itu.

Hampir tiap karya yang hendak dibawakan, didahului oleh bincang-bincang singkat. Bercerita kenapa karya ini dimainkan olehnya, apa sejarah karya tersebut, atau pun hal-hal di luar musik yang punya kaitan dengan karya. Begitu pun ketika Lianto hendak membawakan karya gubahannya sendiri, Praludium Magnetis. Ia menuturkan, kalau karya bernuansa spiritual ini digubahnya setelah didahului puasa selama 3 hari. Lagi, katanya, Ia juga memasukkan unsur dari 5 agama resmi di Indonesia dalam karyanya. Lagu ini terkesan berat dan gelap karena senar 6 ditala hingga mencapai nada B.

Lalu mengalirlah karya yang sangat populer dari F. Tarrega (1852-1909), Recuerdos de la Alhambra, yang berarti, kenangan akan kota Alhambra. Melodi pada karya ini dibawakan oleh register atas secara tremolo. Lewat Lianto, tremolo ini tidak hadir dengan ritmis. Melodi terkesan sepotong-potong, terpenggal-penggal. Belum lagi ketika dihadapkan pada bagian antar melodi yang berjarak jauh dan dimainkan dalam posisi barre. Karena pada bagian ini antar not tidak terjembatani dengan baik dan sering memotong harga not.

Di nomor berikutnya, yakni sebuah karya dari komponis Spanyol jaman Romantik, J. Gimenez (1854 -1923) berjudul La Boda de Luis Alonso ”Intermedio” menjadi pilihan Lianto. Sejak awal lagu, Lianto yang kelahiran Banyuwangi tahun 1963 ini membawakan dalam tempo yang terburu-buru. Maka tak heran, jarinya terus menerus berkejaran dengan tuntuan tempo. Sehingga Ia tidak lagi memikirkan frase, dan itu yang menyebabkan pulsasi lagu ini menjadi tidak jelas.

Sebuah lagu yang juga amat terkenal dari Franz Schubert (1797-1828) berjudul Ave Maria menggoda gitaris yang pernah berguru pada gitaris dunia Elliot Fisk di Jerman ini. Manisnya lagu yang biasanya dibawakan oleh instrumen piano atau organ ini kemudian ditranskrip Lianto ke dalam aransemen gitar tunggal. Namun sayang, hasil transkrip ini kurang berhasil. Setidaknya nuansa syahdu dari karya tidak mampu hidup pada trankripsi di gitar. Resonansi yang tidak maksimal, melodi yang dibunyikan secara tajam, dan penempatan melodi dalam akor yang tidak berjalan mulus karena terlalu banyak pergerakan dengan interval yang jauh, menjadikan karya ini terkesan ringan dan kering.

Secara teknik, kecepatan jari Lianto memang tidak diragukan lagi. Jarinya seperti dengan santainya menerkam leher gitar tanpa dosa. Namun sayang, kecepatan itu tidak dimainkan dengan bersih dan bebas dari slip. Hal ini terlihat dari karya Caprice No. 24 milik N. Paganini (1782-1840). Banyak not yang tidak bunyi membuat artikulasi menjadi kabur, dan dengan demikian justru membuat karya terkesan sepele dan hanya memberi hiburan lewat akrobat jari semata.

Berturut-turut, karya-karya yang dibawakan seusai jeda adalah Requiem milik G. Verdi (1813-1901), Campanella milik Franz Liszt (1811-1886), Toccata BWV 564 bagian Adagio dan Suite BMW 1006 bagian Prelude yang keduanya milik J.S. Bach (1685-1750). Hingga sampai pada nomor terakhir, sebuah repertoar yang amat berat, Hungarian Rhapsody No. 2 dari F. Liszt. Karya untuk piano ini dibawakan Lianto dengan memakai hasil transkripsi gitaris Jepang, Yamashita. Seperti karya-karya sebelumnya, agresivitas dan gaya ekspresif dari Lianto amat mendominasi suasana resital malam itu. Sayang, penonton yang tak sabar keburu pulang lebih awal, sehingga tak menyaksikan 3 buah encore dari Lianto yang membuat resital tersebut semakin hangat. Semakin intim.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.